Rumus Sukses dari Santosa, CEO Asuransi Astra

//Rumus Sukses dari Santosa, CEO Asuransi Astra
By | 2017-09-05T04:52:02+00:00 January 27th, 2016|Knowledge-base|0 Comments
Santosa - Chief Executive Officer Asuransi Astra

Santosa – Chief Executive Officer Asuransi Astra

Jika sukses adalah karunia, maka proses memperolehnya merupakan usaha pembentukan diri sampai layak mendapatkan. Di setiap kisah sukses seseorang pasti ada jalan cerita yang bisa jadi bahan pelajaran, menginspirasi, atau setidaknya mampu menggerakan hati orang lain mengejar sukses.

Melalu cerita Santosa, Sarjana Fisika lulusan Universitas Gajah Mada pada 1989 yang kini menjabat CEO PT Asuransi Astra Buana (AAB) sejak April 2014, definisi sukses asalnya bukan kata orang tapi kembali ke diri sendiri.

Santosa sudah dua kali ditugaskan mengawal perusahaan yang dikenal dengan cabang bisnis asuransi kendaraan bermotor, Garda Oto. Sebelumnya ia pernah memegang peran sebagai Chief Financial Officer AAB, periode Mei 2005 hingga Mei 2007.

“Saya bilang sukses atau keberhasilan itu relatif, apa yang dikejar seseorang? Tapi kalau buat saya yang paling penting adalah tiga hal, pertama kemauan, kita maunya apa dulu, kalau kita sudah tahu maunya apa maka yang kedua adalah kemampuan untuk mencapai kemauan. Ketiga itu kesempatan,” kata Santosa saat berbincang denganKompasOtomotif, Kamis (10/12/2015).

Ketiga hal itu harus bertemu di satu titik, lanjut Santosa. Bila salah satunya absen maka tidak akan berhasil.

“Maunya jadi apa dulu? Kalau misalnya mau jadi pengusaha tapi kerja di Astra ya tidak mungkin karena pasti jadi karyawan. Kalau mau jadi professional di Astra pasti punya kesempatan, tinggal maunya jadi profesional seperti apa,” ujar Santosa.

Gonta-ganti perusahaan

Sepanjang 27 tahun karir prosfesionalnya, Santosa habiskan mengabdi pada grup Astra International. Ia sudah “kenyang” menerima tantangan, tercatat sudah 13 kali ia keluar masuk pintu beberapa anak perusahaan Astra International.

Lulus  kuliah dengan modal S1 ilmu dan teori Fisika, karir Santosa di Astra International dimulai pada 1989 sebagai “tukang komputer” atau jabatan resminya Software Instructor di PT Astra Graphia (1989 – 1991). Tugasnya membantu konsumen yang mengalami kesulitan mengoperasikan komputer, pada era itu komputer jadi barang teknologi tinggi yang tidak bisa dimengerti semua orang.

“Sebenarnya kan nggak jauh, orang fisika diajarkan komputer kemudian belajar jenis komputer. Kalau ngajarin orang bisalah, kalau fisika kan biasa ngajar juga,” ujar Santosa yang kemudian diangkat menjadi Technology Marketing Specialist diperusahaan yang sama (1991 – 1993).

Santosa beralih sebagai Consulting Resource di PT Digital Astra Nusantara (1993 – 1995). Perusahaan ini hasil kolaborasi Astra Graphia dengan produsen komputer kedua terbesar di dunia saat itu, Digital Equipment Corporation.

“Kenapa saya bisa pindah ke sana? Ya karena ada kesempatan. Astra buka divisi infrastruktur dengan fokus telekomunikasi. Komputer dengan telekomunikasi kan dekat, karena saya spesialisasinya networkjadi dengan komunikasi kan dekat. Tapi tetap mesti belajar karena bagaimanapun beda, kalau tidak beradaptasi ya tidak mungkin jalan,” katanya.

Berlanjut, ia dipercaya sebagai Business Development Manager di PT Astratel Nusantara (1995 – 1996). Anak perusahaan Astra International ini fokus pada pengelolaan infrastruktur.

Mulai tahu banyak soal bisnis telekomunikasi, Santosa kembali dipindahtugaskan sebagai Head of Corporate Support & Planning di PT Pramindo Ikat Nusantara (1996 – 1999). Perusahaan ini fokus pada penyelenggaraan kerja sama operasional dengan PT Telkom Indonesia, namun sempat terkendala karena krisis dalam negeri pada 1998.

“Namanya planning kan tidak cuma teknologi, ada masalah costkemudian profitnya berapa. Awalnya kan cuma ngerti pendapatan dikurangi cost sama dengan profit. Tapi belajar ke sana berarti sudah mulai tahu income statement, nah kan ini sudah geser,” ujar Santosa.

Santosa sempat kembali ke PT Astratel Nusantara (2000 – 2001), tapi kali ini menjabat General Manager Corporate Finance & Planning.

Setelah itu ia ditunjuk mengawal PT Astra CMG Life (2001 – 2003) sebagai Director Sales & Marketing. Perusahaan ini masih tertatih selepas krisis 1998 dan diputuskan melakukan divestasi namun tidak jadi. Santosa bertugas menjaga stabilisasi sampai perusahaan mendapat pemimpin baru.

Setelah dapat, Santosa diarahkan menjadi Director/Chief Financial Officer di PT Astra Graphia (2003 – 2005). “Saya ditarik kemudian diganti. Kebetulan ada eksekutif yang resign jadi saya ditempatkan lagi di Astra Graphia, itu juga kebetulan. Balik lagi selalu ada faktor keberuntungan,” kata Santosa.

Pernah suatu saat mantan Presiden Direktur Astra International (2005 – 2010), almarhum Michael Dharmawan Ruslim, kaget begitu melihat profil karir Santosa. “Saya kan bergaul dengan orang keuangan sudah lama dalam beberapa tahun terakhir. Di bayangan beliau saya ituaccounting atau ekonomi, begitu CV masuk ke bursa ditanya ‘lho kamu ga punya latar belakang asuransi? Lah ini kan direktur keuangan’. Tapi kan sudah terlanjur, ya mesti belajar,” cerita Santosa sambil tertawa mengenangnya.

Prestasi Santosa selama dua tahun di PT Astra Graphia tidak jelek. Ia mengaku bersih dan lolos proses audit. Modal itu membawanya menjabat Director/Chief Financial Officer di PT Asuransi Astra Buana (2005 – 2007).

Pada 2007 Santosa mengatakan Michael Dharmawan Ruslim kembali meregenerasi struktur Astra International. Ia diminta membantu di PT Astra Agro Lestari sebagai Director/Chief Financial Officer (2007 – 2013) sekaligus menjadi Anggota Komite Investasi Yayasan Dana Pensiun Astra I & II (2007 – sekarang).

Mulai 2008 Santosa juga berperan menjadi Anggota Komite Investasi PT Asuransi Astra Buana hingga sekarang. Lantas pada April 2013 ia menjabat Wakil Presiden Direktur di perusahaan itu, kemudian pada April 2014 ditugaskan menjadi CEO.

Terus bergeser

Jabatan dan perusahaan tempat Santosa bekerja selalu berganti, namun itu bukan jadi halangan melainkan dianggap tantangan. Dari pergeseran itu malah Santosa merasa dapat banyak ilmu dan pengalaman.

“Kelihatannya kan dari awal sampai ujung seolah-olah jauh, tapi dalam perjalanan waktu kan kita harus beradaptasi, kalau dapat penugasan mau atau tidak? Kalau saya tidak mau ya tidak mungkin mampu tapi kalau sudah mau harus mengasah kemampuan. Kalau sudah mau mesti mampu, kalau nggak mampu pasti gugur,” kata Santosa.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu kesempatan. Faktor inilah yang bisa diberikan perusahaan dan terkadang tidak bisa diprediksi. Sementara dua faktor lain, kemauan dan kemampuan diasah selama bekerja menjadi paket survive ability.

“Belok itu tidak harus ekstrem. Dari pengalaman saya selalu menunjukan bergeser sedikit demi sedikit, kalau sering berganti dan tidak berhubungan itu juga tidak ada nilai tambahnya. Tapi kalau gesernya terstruktur, wawasan jadi lebih luas dan lebar, kesempatannya lebih besar. Kalau kemauan dan kemampuan kita lebih besar maka peluangnya otomatis lebih besar,” ujar Santosa.

Sumber: kompas.com